Konflik di Aceh telah mengalami perjalanan yang panjang. Pada tahun 2001, konflik antaretnis antara penduduk asli dan pendatang mencapai puncaknya, menyebabkan kerugian besar dan kehilangan nyawa1. Namun, sejak itu, upaya rekonsiliasi telah dilakukan untuk memperbaiki hubungan antara kedua belah pihak. Meskipun demikian, situasi tetap dinamis dan tergantung pada berbagai faktor, termasuk politik, sosial, dan ekonomi. Pada tahun-tahun terakhir, Aceh telah mengalami perubahan. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas di Aceh meliputi:
Rekonsiliasi:
Upaya rekonsiliasi antara warga lokal dan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) telah berlangsung, dan beberapa orang melaporkan perbaikan hubungan dan
ketidakwaswasan yang semakin berkurang2.
Kedatangan
Pengungsi Rohingya: Pada November 2023, lebih dari 1.200 pengungsi Rohingya
mendarat di Aceh, dan situasi ini memunculkan perdebatan dan potensi konflik3.
Perubahan Sosial dan Ekonomi: Perubahan sosial, ekonomi, dan politik dapat memengaruhi stabilitas di wilayah tersebut.
Namun, kita tidak dapat memprediksi masa depan dengan pasti. Meskipun ada upaya untuk mencegah konflik, situasi selalu berubah. Penting bagi semua pihak untuk terus berkomitmen pada perdamaian dan rekonsiliasi agar Aceh tetap stabil dan damai4. Disisi lain Saat ini media sedang digencarkan oleh isu pro dan kontra Muallem menjadi Gubernur Aceh, hal ini diungkapkan oleh tokoh-tokoh eks kombatan yang saat ini menjadi oposisi Muallem, yang mana alasan utama mereka adalah Muallem tidak mampu membawa Aceh mandiri dan berintegritas, disisi lain salah satu masalah yang melatarbelakangi kembalinya ASNLF adalah masih kuatnya ideologi yang selama ini diperjuangkan, ditambah butiran MoU yang belum dilaksanakan dan terkesan tarik-ulur dalam pengimplementasiannya. Aksi propaganda yang saat ini dibangkitkan oleh eks kombatan lewat media sosial sebagai bentuk penentangan terhadap pernyataan Ketua PA/KPA Muzakir manaf alias Muallem yang mengatakan Aceh tidak bisa pisah dari NKRI, selain itu sikap kecamanan terhadap kepengurusan KPA/PA yang selama ini tidak mampu memperjuangkan hak Masyarakat Aceh terutama pisah dari NKRI, yang menjadi perhatian adalah isu ini akan terus mereka proklamirkan lewat media sosial untuk menjadi bola panas bagi Muallem yang dicanangkan menjadi Kandidat Gubernur pada Pilkada mendatang karena tujuan utama mereka adalah bagaimana Masyarakat Aceh Bersatu mengambil sikap untuk pisah dari NKRI dan Muallem tidak mendapatkan kepercayaan lagi dari Masyarakat Aceh.





